02 Juni 2012

PEMUPUKAN KELAPA SAWIT


*Oleh : Khasril Atrisiandy, SP
A. Latar belakang
Tanah idealnya dapat menyediakan sejumlah unsur hara penting yang dibutuhkan oleh tanaman.
Penyerapan unsur oleh tanaman semestinya dapat segera diperbaharui sehingga kandungan unsur hara didalam tanah tetap seimbang.

Kemampuan Lahan dalam penyediaan unsur hara secara terus menerus bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa sawit yang berumur panjang sangatlah terbatas. Keterbatasan daya dukung lahan dalam penyediaan unsur hara ini harus diimbangi dengan penambahan unsur hara melalui pemupukan.
Salah satu tantangan yang dihadapi oleh pengelola pertanian adalah menciptakan kondisi tanah yang ideal bagi pertumbuhan tanaman. Untuk menciptakan kondisi ini, para pengelola pertanian harus memiliki pengetahuan tentang beberapa hal,seperti pengetahuan tentang sifat fisik dan kimia tanah serta pengetahuan tentang proses pertumbuhan tanaman.

B. Pengertian
Pupuk didefenisikan sebagai material yang ditambahkan ketanah atau tajuk tanaman dengan tujuan untuk melengkapi ketersediaan unsur hara. Bahan pupuk yang paling awal digunakan adalah kotoran hewan, sisa pelapukan tanaman, dan arang kayu. Pemakaian pupuk kimia kemudian berkembang seiring dengan ditemukannya deposit garam kalsium di Jerman pada tahun 1839.

1. Pemupukan
Menurut pengertian luas, pemupukan ialah pemberian bahan kepada tanah dengan maksud memperbaiki atau meningkatkan kesuburan tanah. Bahan itu tidak mencakup air, yang pemberiannya disebut irigasi. Memang irigasi dapat juga beRPeran pemupukan tertentu, karena air mengandung ZAt hara terlarut atau tersuspensi.

Pemupukan menurut pengertian khusus ialah pemberian bahan yang dimaksudkan untuk menambah hara tanaman pada tanah (pupuk menurut arti awam; fertilizer). Pemberian bahan yang dimaksudkan memperbaiki suasana tanah, baik fisika, kimia ataupun biologi, disebut amandemen (amendment) yang berarti reparation atau restutition. Bahan-bahan ini mencakup mulsa (pengawetan lengas tanah), pembenahan tanah (soil conditioner,memperbaiki struktur tanah), kapur pertanian (menaikkan pH tanah yang terlalu rendah atau melawan racun Al atau Mn), tepung belerang (menurunkan pH yang terlalu tinggi) dan gips (menurunkan kegaraman tanah yang terlalu tinggi). Bahan hijauan legume dan kotoran hewan/kandang diberikan kepada tanah dengan maksud, baik untuk pemupukan menurut arti khusus maupun untuk amandemen. Dalam istilah Indonesia bahan-bahan itu juga disebut pupuk, akan tetapi dalam istilah inggris disebut manure untuk membedakannya dari fertilizer.

2. Manfaat Pemupukan 
Praktik pemupukan memberikan konstribusi yang sangat luas dalam meningkatkan produksi dan kualitas produk yang dihasilkan. Salah satu efek pemupukan yang sangat bermanfaat yaitu meningkatnya kesuburan tanah yang menyebabkan tingkat produksi tanaman menjadi relative stabil serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit dan pengaruh iklim yang tidak menguntungkan. Selain itu, pemupukan bermanfaat melengkapi persediaan unsur hara didalam tanah sehinggakebutuhan tanaman teRPenuhi dan pada akhirnya tercapai daya hasil (produksi) yang maksimal. Pupuk juga menggantikan unsur hara yang hilang karena pencucian dan terangkut (dikonversi) melalui produk yang dihasilkan (TBS) serta memperbaiki kondisi yang tidak menguntungkan atau mempertahankan kondisi tanah yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan kelapa sawit.

3. Proses Pertumbuhan Tanaman
Salah satu proses teRPenting yang terjadi dialam adalah proses fotosintesis. Dalam proses ini karbondioksida (CO2) dan air (H2O) didalam sel klorofil bereaksi dengan bantuan radiasi matahari untuk memproduksi gula. Gula yang terbentuk dapat digunakan oleh tanaman untuk memproduksi energi melalui proses respirasi (pernafasan). Selain itu gula juga berfungsi untuk membentuk sel atau jaringan tubuh yang baru (proses asimilasi) atau dapat diubah menjadi pati,lemak,dan protein sebagai cadangan makanan yang disimpan diakar, ranting,daun buah dan biji.

Untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman,proses fotosintesis harus dibuat menjadi lebih efisien. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbaiki kelembapan tanah(menurunkan tingkat stress akibat kekeringan),meningkatkan penyerapan energi surya dan CO2,serta menyediakan nutrisi atau unsur hara yang diperlukan dalam proporsi yang benar dan tepat.

Umumnya tahap pertumbuhan tanaman dibagi menjadi 2 fase, yakni fase vegetatif dan fase generatif :
I. Fase Vegetatif : Terjadi pada perkembangan akar,daun dan batang baru,terutama saat awal pertumbuhan atau setelah masa berbunga atau berbuah. Pada fase ini terjadi tiga proses penting,yakni pembelahan sel, peRPanjangan sel, dan tahap pertama dari diferensiasi sel.

II. Fase Generatif : atau fase reproduktif terjdi pada pembentukan dan perkembangan kuncup-kuncup bunga,bunga,buah dan biji. Dapat juga terjadi pada pembesaran dan pendewasaan struktur penyimpanan makanan, akar-akar dan batang yang berdaging. Proses penting ynag berlangsung pada fase generatif meliputi pembuahan sel-sel yang secara relative berjumlah sedikit; pendewasaan jaringan; penebalan serabut-serabut; pembentukan hormone untuk perkembangan kuncup bunga,bunga,buah dan biji; perkembangan alat-alat penyimpanan; dan pembentukan koloid-koloid hidrofilik(koloid yang dapat menahan air).

4. Sumber Unsur Hara
Unsur hara yang diserap oleh tanaman berasal dari 3 (tiga) sumber yaitu sebagai berikut :

(1). Bahan Organik, Sebagian besar unsur hara terkandung didalam bahan organik. Sebagian dapat digunakan langsung oleh tanaman,sebagian lagi tersimpan untuk jangka waktu yang lebih lama. Bahan organik harus terdekomposisi (pelapukan)terlebih dahulu sebelum tersedia bagi tanaman.

(2). Mineral Alami, Setiap jenis batuan mineral yang membentuk tanah mengandung bermacam-macam unsur hara.Mineral alami ini berubah menjadi unsur hara yang tersedia bagi tanaman setelah mengalami penghancuran oleh cuaca.

(3). Unsur Hara Yang Terjerap Atau Terikat, Unsur hara ini terikat dipermukaan atau diantara lapisan koloid tanahdan sebagai sumber utama dari unsur hara yang dapat diataur oleh manusia. Unsur hara yang terikat ini biasanya tidak dapat digunakan oleh tanaman, karena pH-nya terlalu ekstrem atau terdapat ketidak seimbangan jumlah unsur hara . Lewat pengaturan pH tanah,unsur hara ini dapat diubah menjdai unsur hara yang tersedia bagi tanaman.

(4). Unsur Hara yang Diserap Oleh Tanaman
Tanaman terdiri dari 92 unsur, tetapi hanya unsur esensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Dari 16 unsur tersebut, unsur C, H, dan O diperoleh dari udara dan air (dalam bentuk CO2 dan H2O), sedangkan 13 unsur mineral esensial lainnya diperoleh dari dalam tanah dan secara umum digolongkan sebagai “Hara”.

Unsur hara sangat diperlukan tanaman dan fungsinya tidak dapat digantikan olah unsur lain. Jika jumlahnya kurang mencukupi, terlalu lambat tersedia, atau tidak diimbangi oleh unsur lain akan menyebabkan peratumbuhan tanaman terganggu.

Dari ketiga belas unsur hara yang diperoleh dari dalam tanah, enam unsur diantaranya diperlukan tanaman dalam jumlah lebih besar atau yang sering disebut dengan unsur hara makro yang nilai kritisnya antara 2-30 gr/kg berat kering tanaman. Unsur makro terdiri dari unsur hara utama : Nitrogen (N), Fosfor(P), Kalium (K), dan unsur hara sekunder Calsium (Ca), Magnesium (Mg) Dan Sulfur (S). Unsur hara utama diberikan dalam bentuk pupuk pada seluruh jenis tanaman dan seluruh jenis tanah. Dalam hal ini N diserap dalam bentuk ion NH4+, P dalam kation P5+, dan K dalam kation K+. Sementara unsur hara sekunder hanya diberikan pada beberapa jenis tanaman pada jenis tanah tertentu. Dalam hal ini S diserap dalam bentuk anion SO42-, Ca dalam kation Ca2+ dan Mg dalam kation Mg2+.

Unsur hara mikro (7 unsur) yang diperlukan tanaman dalam jumlah relatif lebih kecil atau sering disebut dengan unsur mikro yang kandungan kritisnya 0,3 50 mg/kg berat kering tanaman. Unsur mikro terdiri dari : Besi (Fe), Seng (Zn), Mangan(Mn), Boron (B), Molibdenum (Mo), kufrum (Cu)  dan Khlor (Cl). 5 (lima) unsur merupakan logam berat (Fe, Zn, Mn, Cu dan Mo) yang diserap tanaman dalam bentuk kation divalent atau kelat kecuali Mo yang diserap dalam bentuk anion divalent Molibdat (MoO4). Sedangkan 2 (dua) unsur  hara bukan logam (Cl dan B) diserap tanaman dalam bentik anion Cl- dan B3+. Beberapa unsur hara mineral memberikan pengaruh yang menguntunkang (beneficial) pada beberapa jenis tanaman, tetapi tidak bersifat esensial seperti Natrium (Na), Silikon (Si), Kobalt (Co), Khlor (Cl) dan Aluminium (Al).

5. Jenis-jenis Pupuk
Pupuk yang umum digunakan dalam perkebunan kelapa sawit adalah pupuk anorganik (pupuk buatan) dan pupuk organik

a. Pupuk anorganik
Sejumlah pupuk anorganik telah dikembangkan untuk menambah hara tanah sehingga dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman yang cukup tinggi. Umumnya, pupuk organik berupa garam mineral, kecuali beberapa pupuk seperti urea. 
Klasifikasi yang umum digunakan adalah pupuk tunggal dan pupuk majemuk yang umumnya hanya mencakup 3 hara makro NPK. Banyak pupuk tunggal yang sebenarnya memeberikan lebih dari satu jenis hara, misalnya ammonium sulfat (ZA) yang mengandung N dan S.
Kandungan hara dalam pupuk secara tradisional dinyatakan dalam bentuk oksida (P2O5) dan dalam bentuk unsur (N,P, dan K). Komponen pupuk buatan dan tata niaga pupuk di Indonesia dikendalikan langsung oleh pemerintah melalui sebuah sistem.

b. Pupuk Organik
Bahan organik dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur tanah dan memberikan hara bagi tanaman. Umumnya bahan organik ini merupakan produk limbah sehingga tersedia secara murah , terutama bila diaplikasikan dekat dengan tempat pembuatannya.

Pemberian bahan organik sebagai pupuk memberikan pengaruh yang sangat kompleks bagi pertumbuhan tanaman. Pengaruh bahan organik terhadap pertumbuhan tanaman terutama karena kemampuannya memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah.

Perbaikan sifat fisik tanah terutama sekali terjadi karena meningkatnya kegiatan mikroorganisme didalam tanah sehingga struktur tanah menjadi lebih baik (lebih remah), aerasi tanah dan kapasitas dalam menahan air meningkat, serta adanya bahan organik akan berfungsi sebagai mulsa yang melindungi permukaan tanah dari erosi dan pencucian hara.

Penambahan bahan organik juga mempengaruhi sifat kimia tanah yang mekanismenya melalui beberapa hal berikut:
Peningkatan nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) (Kapasitas Tukar Kation) tanah karena erapan (soRPtion) hara oleh asam humat
Persediaan hara dari dekomposisi humus dan mineral-mineral tanah yang terlarut
Pengikatan hara dalam komleks senyawa organik
Pengaruh dari pengatur tumbuh yang dihasilkan tanah.Misalnya, bahan organik dapat mengakumulasi ZAt penghambat tumbuh pada monokultur dan menghasilkan antibiotik yang merangsang pertumbuhan tanaman karena membunuh sejumlah bakteri sumber penyakit (pathogen) tanaman.

Pupuk Organik yang diaplikasikan secara teratur pada perkebunan kelapa sawit merupakan pupuk/limbah dari proses pengolahan kelapa sawit dipabrik dan limbah perkebunan yangberasal dari sisa-sisa daun kacangan yang sengaja ditanam pada saat pembukaaan lahan. Berikut tabel 1. sumber unsur hara dan hara utama yang dikandungnya

Tabel 1. sumber unsur hara dan hara utama yang dikandungnya




















Sumber : PPKS - Medan 2010

BAB II

Peranan Unsur Hara
A. Unsur Hara Tanaman
Pada Bab sebelumnya telah disinggung, unsur hara yang diserap oleh tanaman dari dalam tanah terdiri dari 13 unsur mineral atau sering disebut dengan unsur hara esensial. Unsur hara ini sangat dibutuhkan oleh tanaman dan fungsinya tidak dapat digantikan dengan unsur lain. Jika jumlahnya kurang mencukupi, terlalu lambat tersedia, atau tidak diimabngi oleh unsur-unsur lain akan menyebabkan pertumbuhan tanaman kelapa sawit terganggu

Dari ketiga belas unsur yang diperoleh dari dalam tanah, enam unsur diantaranya diperlukan tanaman dalam jumlah lebih besar atau yang sering disebut dengan unsur makro,, yang terdiri dari Nitrogen (N), fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Sulfur (S). Tujuh unsur lainnya diperlukan tanaman dalam jumlah relative lebih kecil atau sering disebut dengan unsur mikro. Unsur ini terdiri dari besi (Fe) Seng (Zn), tembaga (Cu), Mangan (Mn), boron (B), Molibdenum (Mo), dan khlor (Cl).
Setiap jenis tanaman menunjukkan gejala kekurangan unsur hara yang berbeda-beda. Pengamatan yang teliti dilapangan serta bekal pengalaman dan ilmu yang mencukupi akan menghasilkan analisis yang lebih akurat. Menganalisis gejala yang ditunjukkan tanaman adalah cara yang paling cepat dan efisien untuk mengetahui adanya kekurangan unsur hara.

B. Peranan Unsur Hara Pada Kelapa Sawit
1.  Nitrogen 
Penyusun protein, klorofil, dan beRPeranan terhadap fotosintesis
Kekurangan N menyebabkan daun berwarna kuning pucat dan menghambat pertumbuhan tanaman. 
Kelebihan N menyebabkan daun lemah, rentan terhadap penyakit/hama, kekahatan Boron, white stripe, dan berkurangnya buah jadi.
Penyebab defisiensi N : terhambatnya mineralisasi N, aplikasi bahan organik dengan C/N tinggi, gulma, akar tidak berkembang, pemupukan N tidak efektif.
Upaya : aplikasi N Urea pada Tandan Kelapa Sawit, aplikasi N pada kondisi tanah lembab,  kendalikan gulma.  














Gambar 1. Defisiensi N 















Gambar 2. Defisiensi N pada darainase yang buruk

Tabel 2. Sifat Pupuk N dan Jenis Pupuk dengan Kandungan N













Sumber : PPKS – Medan, 2010

2. Fosfor (P) 
Penyusun ADP/ATP, memperkuat  batang, dan merangsang perkembangan akar, memperbaiki mutu buah
Kekurangan N sulit dikenali, menyebabkan tan tumbuh kerdil, pelepah memendek, dan batang meruncing. 
Indikasi kekurangan P : daun alang-alang berwarna ungu, lcc sulit tumbuh dengan bintil akar yang sedikit.
Penyebab defisiensi P : P tanah rendah (p tersedia <15 ppm), top soil tererosi, kurangnya pupuk P,  kemasaman tanah tinggi.
Upaya : aplikasi P di pinggir piringan/gawangan, kurangi erosi, tingkatkan status P tanah, perbaiki kemasaman tanah. 

Tabel 3. Sifat Pupuk P dan Jenis Pupuk dengan Kandungan P
















Sumber : PPKS – Medan, 2010

3. Kalium ( K )
Aktivitas stomata, aktivasi enzim, dan sintesa minyak, meningkatkan ketahanan thd penyakit serta jumlah - ukuran tandan.
Kekurangan K menyebabkan bercak kuning/ transparan,  white stripe, daun tua kering dan mati.  
Kekurangan K berasosiasi dengan munculnya penyakit seperti ganoderma.  
Kelebihan K merangsang  gejala kekurangan b sehingga rasio minyak terhadap tandan menurun.
Penyebab kekurangan K : K dd tanah rendah, kurangnya pupuk K,  kemasaman tanah tinggi  dengan Kapasitas Tukar Kation (KTK) rendah.
Upaya : aplikasi K yang cukup, aplikasi TKS,  perbaiki Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah, aplikasi pupuk K pada pinggir piringan










Gambar 3. Defisiensi Kalium. Bercak oranye (Confluent Orange Spotting)

Tabel 4. Sifat Pupuk K dan Jenis Pupuk dengan Kandungan K














Sumber : PPKS – Medan, 2010

4.  Magnesium (Mg)
Penyusun klorofil, dan beRPeranan dalam respirasi tanaman maupun pengaktifan enzim
Kekurangan Mg menyebabkan daun tua berwarna hijau kekuningan pada sisi yang terkena sinar matahari,  kuning kecoklatan lalu kering.
Penyebab defisiensi Mg : rendahnya Mg-dd tanah, kurangnya aplikasi Mg, ketidak-seimbangan Mg dengan kation lain, curah hujan tinggi (>3.500 mm/ thn), tekstur pasir dengan top soil tipis
Upaya : rasio Ca/Mg dan Mg/K tanah agar tidak melebihi 5 dan 1,2, aplikasi TKS, gunakan dolomit jika kemasaman tinggi, pupuk ditabur pada pinggir piringan. 

















Gambar 4. Defisiensi Mg




















Gambar 5. Defisiensi Tembaga (Cu)

Tabel 5. Sifat Pupuk Mg dan Jenis Pupuk dengan Kandungan Mg















Sumber : PPKS – Medan, 2010

5.  Tembaga (Cu) 
Pembentukan klorofil, dan katalisator proses fisiologis tanaman
Kekurangan cu menyebabkan mid crown chlorosis (mcc) atau peat yellow.  Jaringan klorosis hijau pucat kekuningan muncul di tengah anak daun muda. Bercak kuning berkembang di antara jaringan klorosis.  Daun pendek, kuning pucat, kemudian mati.
Penyebab defisiensi Cu : rendahnya Cu-dd tanah gambut atau pasir, tingginya aplikasi mg, aplikasi N dan P tanpa K yang cukup.
Upaya : perbaiki rendahnya K tanah, basahi tajuk dengan 200 ppm CuSO4. 

6.  Boron (B)
Meristimatik tanaman, sintesa gula dan karbohidrat, metabolisme asam nukleat dan protein.
Kekurangan B menyebabkan ujung daun tidak normal, rapuh, dan berwarna hijau gelap.  Daun baru memendek sehingga bagian atas tanaman terlihat rata. 
Penyebab defisiensi B : rendahnya b tanah, tingginya aplikasi N, K dan Ca.
Upaya : aplikasi 0,1 - 0,2 kg/phn/thn pada pangkal batang. 










Gambar 6. Defisiensi Boron

7.  Besi (Fe)
Berfungsi sebagai aktifator dalam proses fotosintesis dan respirasi
Pembentuk beberapa enzim dalam tanaman
Penyebab Kekurangan Fe didalam tanah disebabkan oleh kadar Ca, P atau Mn yang terlalu tinggi didalam tanah. Kelebihan Fe juga bisa disebabkan kemasaman (pH tanah) yang rendah
Gejala defisiensi pada daun muda berwarna kuning diantara tulang daun, biasanya dipembibitan atau setahun diawal tanam dilapangan.
Upaya : menormalkan kondisi Fe dengan  menormalkan pH tanah dengan pemberian kaptan atau kieserite
Dalam kondisi normal Fe tidak mudah tercuci dari zona perakaran
Memperbaiki aerasi tanah agar penyerapan Fe oleh akar tidak terhambat 
   















Gambar 7. Defisiensi Fe
















Gambar 8. Defisiensi Fe

BAB III
Pemupukan Kelapa Sawit

Pemupukan Kelapa Sawit dilakukan pada 3 (tiga) tahap perkembangan tanaman, yaitu pada tahap pembibitan dan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) yang mengacu pada dosis baku, tahap Tanaman Menghasilkan (TM) yang ditentukan berdasarkan perhitungan faktor-faktor dasar, serta konsep neraca hara (nutrient balance).(Iyung Pahan…..) Dalam bahan ajar ini yang akan disampaikan adalah pemupukan pada Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan pada Tanaman Menghasilkan (TM).

1. Pemupukan Tanaman Belum menghasilkan (TBM)

  • Dosis pupuk ditentukan berdasar umur tanaman,  jenis tanah, kondisi penutup tanah, kondisi visual tanaman.
  • Waktu pemupukan ditentukan berdasar jadwal - umur tanaman
  • Pada umur satu bulan,  ZA ditebar dari pangkal batang hingga 30 - 40 cm
  • Setelah itu ZA, RP, MOP, dan kiserit ditaburkan merata hingga batas lebar tajuk
  • Boron ditebarkan di ketiak pelepah daun
  • ZA, MOP, kiserit dapat diberikan dalam selang waktu yang berdekatan
  • RP tidak boleh dicampur dengan ZA.  RP dianjurkan diberikan lebih dulu dibanding pupuk lainnya jika curah hujan >60 mm.jarak pemberian RP dengan ZA minimal 2 minggu.
  • Pupuk MOP tidak dapat diganti dengan abu janjang kelapa sawit

Tabel 6. Standar Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) pada Tanah Mineral
















Keterangan * :setelah tanam dilapangan
Sumber : PPKS Medan 2010

Tabel 7. Standar Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) pada tanah gambut














Keterangan * :setelah tanam dilapangan
Sumber : PPKS Medan 2010

2. Pemupukan Tanaman Menghasilkan (TM)

  • Sasaran pemupukan : 4 T (Tepat jenis, Tepat dosis, Tepat waktu, dan Tepat metode)
  • Dosis pupuk ditentukan berdasar umur tanaman,  hasil analisis daun, jenis tanah, produksi tanaman, jenis tanah, hasil percobaan, dan kondisi visual tanaman.
  • Waktu pemupukan ditentukan berdasar sebaran curah hujan.

Tabel 8. Standar Pemupukan Tanaman Menghasilkan (TM) pada tanah mineral












Sumber : PPKS-Medan 2010

Tabel 9. Standar Pemupukan Tanaman Menghasilkan (TM) pada tanah gambut














Sumber : PPKS-Medan 2010

3. Pencampuran Pupuk
Dalam aplikasi pemupukan petani biasanya melakukan sekaligus pencampuran antara satu dengan dua lebih jenis pupuk, hal ini bisa dikatakan benar, bisa juga dikatakan tidak benar, alasan dikatakan benar, diantaranya untuk penghematan waktu dan  tenaga kerja; langkanya ketersediaan pupuk pada saat waktu tertentu sehingga petani akan segera melakukan pemupukan dengan ketersediaan pupuk yang ada; dan lain-lain kondisi dilapangan yang ada. Pencampuran jenis pupuk dikatakan tidak benar apabila, antara satu jenis pupuk yang satu dengan lainnya  salah satunya memiliki sifat higroskopis dan sifat asam dan kebasaan yang berbeda, namun sampai saat ini efek dari pencampuran pupuk belum diketahui secara penelitian. Dalam hali ini petunjuk pencampuran pupuk dapat dilihat pada tabel :

Tabel 10. Pencampuran Pupuk















Sumber : PPKS-Medan 2010

A. Waktu dan Frekuensi Pemupukan

1. Waktu Pemupukan

  • Pemupukan dilakukan pada waktu hujan kecil, namun >60 mm/bln.  Pemupukan ditunda jika curah hujan kurang dari 60 mm per bulan.
  • Pupuk Dolomit dan RockPhospat (RP) atau TSP diusahakan diaplikasikan lebih dulu untuk memperbaiki kemasaman tanah dan merangsang perakaran, diikuti oleh MOP dan Urea/ZA.
  • Jarak waktu penaburan dolomit/rp dengan Urea / ZA minimal 2 minggu.
  • Seluruh pupuk agar diaplikasikan dalam waktu dua bulan. 

Tabel 11. Sebaran Prakiraan Curah Hujan 

















Sumber : PPKS-Medan,2010

2. FREKUENSI PEMUPUKAN
  • Pemupukan dilakukan 2 - 3 kali tergantung pada kondisi lahan, jumlah pupuk, dan umur - kondisi tanaman.
  • Pemupukan pada tanah pasir dan gambut perlu dilakukan dengan frekuensi yang lebih banyak. 
  • Frekuensi pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi tanaman, namun tidak ekonomis dan mengganggu kegiatan kebun lainnya. 
Kisaran dosis dan frekuensi pemupukan kelapa sawit TBM dan TM pada umur tertentu (kg/pohon/tahun) dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 12. Kisaran dosis dan frekuensi pemupukan kelapa sawit TBM pada umur tertentu (kg/pohon/tahun)

















Tabel 13. Kisaran dosis dan frekuensi pemupukan kelapa sawit TM pada umur tertentu (kg/pohon/tahun)































B. METODE APLIKASI PEMUPUKAN
Metode dan aplikasi pemupukan terbagi atas, cara pemupukan dan berdasarkan alat yang digunakan.
a. Cara Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan sistem tebar dan sistem benam (pocket).
Pada sistem tebar, pupuk ditebarkan di piringan pada jarak 0,5 m hingga pinggir piringan pada tanaman muda, dan pada jarak 1 -  2,4 m pada tanaman dewasa.
Pada sistem pocket, pupuk diberikan pada 4 - 6 lubang pada piringan di sekeliling pohon.  Kemudian lubang ditutup kembali.  Sistem pocket disarankan pada areal rendahan, areal perengan, ataupun pada tanah pasiran yang mudah tercuci/tererosi. 
Pada tapak kuda, 75% pupuk diberikan pada areal dekat tebing.  Untuk mengurangi pencucian, pupuk ini sebaiknya diaplikasikan dengan sistem pocket.






b. Berdasar alat yang digunakan, pemupukan dapat dilakukan secara manual, mekanis, maupun dengan pesawat terbang.
Pemupukan manual paling umum dan mudah dilakukan
Pemupukan mekanis menggunakan alat (traktor) penebar pupuk untuk areal yang relatif rata.  Cara ini banyak diterapkan karena sulitnya memperoleh tenaga kerja pemupuk.
Aerial spraying sesuai untuk aplikasi pupuk pada areal yang sulit terjangkau dan daerah yang sulit memperoleh tenaga kerja. 

C. PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PEMUPUKAN

Sebelum melakukan aplikasi pupuk ada beberapa hal yang harus dilakukan yaitu persiapan areal kebun yang akan dipupuk dan persiapan pupuk.
1. Persiapan areal yang akan dipupuk
Piringan tanaman kelapa sawit harus dalam keadaan bersih, lebar 2 meter, dan bebas dari genangan air
Pembenahan piringan, pasar pikul, rorak, tapak kuda, tapak timbun,  dll.
Penghancuran pupuk yang menggumpal
Takaran pupuk dibuat per jenis dan dosis pupuk.  Sapu lidi pendek (15 cm) berbentuk kipas untuk penebaran pupuk
Luas areal yang dipremikan maks. 30% areal pemupukan pada hari itu

2. Persiapan pupuk : kebutuhan jenis & dosis pupuk, dan jumlah pohon, tenaga penebar, pengecer, pengangkut  pupuk dan transportasi pupuk ke lapangan.

*Penyusun adalah Staff Tenaga Teknis di BPP Jambi 

**Sumber dan Daftar Pustaka ada pada admin.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar